Desa Masa Depan Indonesia
Jakarta - Menurut data resmi dari kator Menko Kesra
(Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat) jumlah penduduk miskin pada
Juli 2008 mencapai 34,96 juta orang. Data ini agak berbeda dengan
perhitungan Bank Dunia.
Dalam
tinjauan terkini atas pembangunan di Asia Timur dan Pasifik pada tahun
yang sama Bank Dunia memprediksi jumlah penduduk miskin di Indonesia
adalah sebesar 105,3 juta atau 45,2 persen. Pada tahun 2008 Bank Dunia
menetapkan kemiskinan adalah apabila pengeluaran di bawah $1,25 sehari.
Dari jumlah penduduk miskin di Indonesia sebagian besar (63,47%) berada di pedesaan.
Fenomena dominasi kemiskinan di desa bukan hanya monopoli Indonesia.
Penelitian IFAD Rural Poverty Report (2001) menyebutkan 75% penduduk
miskin di dunia tinggal di desa. Bahkan, sampai tahun 2025, dengan
pertumbuhan ekonomi dan populasi yang terjadi diperkirakan 60% penduduk
miskin masih terkumpul di desa.
Tahun ini kemungkinan terjadi
sedikit pergeseran di Indonesia. Jumlah penduduk miskin di kota semakin
meningkat dan di desa menurun. Tentu bukan karena desa menjadi lebih
sejahtera. Melainkan disebabkan oleh banyaknya eksodus warga desa ke
kota untuk mencari pekerjaan. Sementara di kota PHK (pemutusan hubungan
kerja) justru tengah menjadi ancaman sehingga kehadiran warga desa
meningkatkan jumlah kemiskinan di perkotaan.
Desa ditinggalkan
karena warganya ingin mencari makan. Sulitnya desa untuk dijadikan
sumber kehidupan sering kali menjadi alasan dasar mereka memilih
bergerak ke wilayah urban. Kalau dulu hanya mereka yang terdidik yang
berani bersaing dalam kerasnya kehidupan perkotaan maka hari ini kita
menyaksikan mereka yang kurang berpendidikan juga berani untuk mengadu
nasib di perkotaan. Mengapa warga di desa justru sulit mencari makan?
Dalam
bukunya "Economics of Agricultural Development", Norton dan Alwang
menyebutkan bahwa kasus-kasus kelaparan di desa terjadi bukan karena
dunia tidak mampu memproduksi makanan yang cukup. Secara agregat
produksi pangan dunia sesungguhnya mengalami surplus. Jika total jumlah
pangan yang diproduksi dibagi rata-rata jumlah penduduk dunia maka
setiap orang akan mendapatkan lebih dari jumlah minimum makanan yang
dibutuhkan untuk bisa survive.
Masalah utama yang terjadi
sesungguhnya adalah ketidakadilan yang menyebabkan tidak terdistribusinya pembangunan secara merata. Hal ini mengakibatkan
banyak masyarakat tidak mampu mengakses kebutuhan hidupnya secara
layak. Indonesia hari ini surplus pangan. Tapi, masih saja ada warganya
yang tidak mampu mengakses pangan. Hal itu tidak lain karena masih
belum terwujudnya pemerataan pendapatan.
Desa menjadi bagian
dunia yang tertinggal dan ditinggalkan tempat di mana masyarakat miskin
berkumpul. Padahal di sanalah sesungguhnya sumber-sumber kehidupan
ditemukan. Kita tidak menanam padi yang nasinya kita makan setiap hari
di kota-kota besar.
Kita juga tidak memperoleh sayur, buah,
dan segala bahan pangan yang kita butuhkan kecuali desa-desa dengan
setia menyediakan. Kita tidak mengeksplorasi sumber-sumber energi di
tengah wilayah perkotaan. Semua yang kita butuhkan untuk memenuhi
syarat dasar kehidupan bersumber di wilayah pedesaan. Oleh karenanya
sangat tidak wajar jika desa ditinggalkan dari agenda-agenda
pembangunan.
Pemerintah perlu mencanangkan gerakan kembali ke
desa. Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi harus digerakkan ke pedesaan
sehingga desa menjadi tempat yang menarik sebagai tempat tinggal dan
mencari penghidupan. Infrastruktur desa, seperti irigasi, sarana dan
prasarana transportasi, listrik, telepon, sarana pendidikan, kesehatan
dan sarana-sarana lain yang dibutuhkan, harus bisa disediakan sehingga
memungkinkan desa berkembang.
Pemerintah juga perlu
menciptakan banyak desa-desa industri yang mandiri, sehingga masyarakatnya, terutama para pemudanya tidak perlu lari dari desa yang
selama ini dihuni. Sangat disayangkan jika proses urbanisasi terus
terjadi tanpa solusi ekonomi yang memadai. Karena yang terjadi
sesungguhnya hanyalah memindahkan arus kemiskinan dari desa ke kota,
dan ini hanya akan menambah panjang daftar masalah-masalah baru.
Pemerintah
harus berani menjadikan desa sebagai masa depan Indonesia. Desa bukan
hanya menjadi objek wisata. Melainkan juga ruang untuk berkerja. Desa
bukan hanya wilayah untuk menikmati segala keindahan. Melainkan juga
ruang untuk memperjuangkan kehidupan. Desa harus menjadi tempat di mana
sumber daya manusia terbaik merasa nyaman untuk hidup dan berkarya di
sana dan seluruh masyarakat bisa menikmati kesejahteraannya.
Mukhamad Najib
The University of Tokyo, 4-6-41 Shirokanedai,
Minato-Ku, Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982
(msh/msh)
sumber : http://suarapembaca.detik.com/read/2009/02/05/095217/1079814/471/desa-masa-depan-indonesia

Visitors :15323 Org
Hits : 60410 hits
Month : 442 Users
